Intervensi Komunikasi, Informasi, Dan Edukasi Sebagai Upaya Pencegahan Hordeolum Di Klinik Mata Ambon Vlissingen
DOI:
https://doi.org/10.62712/juribmas.v5i1.998Keywords:
Hordeolum, bintitan, komunikasi informasi edukasi (KIE), penyuluhan kesehatan, pengetahuan pasienAbstract
Latar Belakang: Hordeolum (bintitan) merupakan infeksi akut pada kelopak mata yang sering dijumpai dalam praktik klinis. Meskipun bersifat self-limiting, kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan signifikan dan berisiko mengalami komplikasi serta kekambuhan jika tidak ditangani dengan tepat. Faktor risiko yang sebagian besar dapat dimodifikasi melalui perubahan perilaku menjadikan edukasi kesehatan sebagai strategi pencegahan yang penting. Tujuan: Mengetahui efektivitas intervensi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) terhadap peningkatan pengetahuan pasien tentang hordeolum di Klinik Mata Vlissingen, Kota Ambon. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan intervensi KIE melalui penyuluhan dan media leaflet. Sasaran kegiatan adalah 20 pasien yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest menggunakan 10 pertanyaan yang sama, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan pada peserta setelah diberikan intervensi. Rata-rata jawaban benar meningkat dari 5 soal pada pretest menjadi hampir seluruh peserta mampu menjawab 10 soal dengan benar pada postest. Keberhasilan ini didukung oleh metode yang interaktif dan penggunaan leaflet edukasi dengan bahasa yang sederhana serta dilengkapi ilustrasi. Kesimpulan: Intervensi KIE efektif dalam meningkatkan pengetahuan pasien tentang hordeolum. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Shin et al,2025) yang menekankan pentingnya edukasi pasien untuk mencegah rekurensi serta rekomendasi (Medscape,2024) tentang pencegahan kekambuhan melalui kebersihan kelopak mata harian. Diperlukan KIE lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar untuk hasil yang lebih optimal.
Downloads
References
Abdussamad, Z., Rosita, E., Alfianto, A. G., Pramana, C., Kristianto, B., Wicaksono, K. E., Solehah, E. L., Wahyuni, W., Linadi, K. E., Prasetyo, B., Labot, H. K., & Purwanza, S. W. (2021). Promosi kesehatan: Program inovasi dan penerapan. Media Sains Indonesia.
Sumakul, V. D. O., Langingi, A. R. C., Lariwu, C. K., & Sepang, M. Y. L. (2022). Buku ajar dasar-dasar promosi kesehatan. Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia.
Wibowo, T. S., Anwas, R., Aris, M., Wahyudi, D. T., Ifroh, R. H., Misaroh, S., Kasim, A. M., Sumiati, T., Nurfadhilah, Handayani, S., Nuryati, T., Hidayati, & Anggraini, R. (2024). Dasar promosi kesehatan. Aina Media Baswara.
Willmann, D., Guier, C. P., Patel, B. C., & Melanson, S. W. (2024). Hordeolum (Stye). In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/books/NBK459349/
BMJ Best Practice. (2024). Stye and chalazion. BMJ Publishing Group. https://bestpractice.bmj.com/topics/en-gb/214
Shin, H. J., Yoon, J. S., Choung, H., & Lew, H. (2025). Management practice for hordeolum and chalazion: A survey of the Korean Society of Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery (KSOPRS) members. Korean Journal of Ophthalmology, 39(3), 222–240. https://doi.org/10.3341/kjo.2025.0024
National Institutes of Health. (2024). Hordeolum (stye). StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/books/NBK459349/
Ehrenhaus, M. P., & Ing, E. B. (2024). Hordeolum follow-up: Deterrence/prevention and patient education. Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1213080-followup
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Ceriana Putri Yulia, Khaerah Umma, Dhanielo J G Pattiasina, Elvido Claus Uneputty, I Wayan Ardy Paribrajaka, Daniel J Siegers

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.





